Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Masuknya Islam di Eropa

Foto: Islamcity.org


Sejarah Masuknya Islam di Eropa - Islam masuk ke Eropa pertama kali dibawa oleh Kekhalifahan Umayyah yang saat itu dapat memperluas wilayahnya hingga ke Semenanjung Iberia (sekarang Spanyol dan Portugal). 

Kekhalifahan Umayyah menaklukkan wilayah di Semenanjung Iberia mulai tahun 711 M, sebelumnya merupakan Provinsi Hispania. 

Penaklukan dipimpin oleh Jenderal Thariq bin Ziyad pada masa pemerintahan Khalifah Al Walid I di Damaskus. Dalam sejarah peradaban Islam, wilayah ini lebih dikenal dengan nama Andalusia.

Saat itu setelah masuknya pemerintahan Islam, kondisi penduduk di Andalusia menjadi beragam yang terdiri dari masyarakat Arab, al-Muwalladun (orang Spanyol yang masuk Islam), orang Afrika Utara, Yahudi, dan Kristen yang belum menerima kedatangan Islam. 

Masuknya pemikiran Islam membawa sebuah peradaban baru di Andalusia. Berbagai ilmu pengetahuan mulai dari sains, filsafat, fikih, seni, dan arsitektur berkembang dengan pesat. (Manan, 2020)

Dalam kemajuan peradaban Andalusia ini dapat dilihat dari banyaknya tokoh dan karya intelektual Muslim yang muncul saat itu, Ibnu Rusyd contohnya. 

Kemajuan di bidang intelektual ini juga melahirkan sebuah universitas dan perpustakaan di Cordova, Andalusia yang bahkan dapat menyaingi universitas Islam terbaik saat itu di Baghdad. 

Dalam bidang kebudayaan, budaya Arab lebih berkembang daripada budaya Eropa. Masyarakat Andalusia lebih banyak menggunakan bahasa Arab ketimbang bahasa asli mereka. Dalam seni dan arsitektur di Andalusia pun sangat terpengaruh oleh budaya Arab. (Manan, 2020)

Kemajuan peradaban Islam di Andalusia jauh meninggalkan peradaban-peradaban lainnya di Eropa yang kala itu dalam masa Abad Kegelapan (Dark Ages)

Hasil-hasil kebudayaan Islam masa keemasan ini di masa mendatang melahirkan kaum-kaum orientalis di Eropa. Karya-karya intelektual Muslim kemudian banyak dikaji sebagai ilmu pengetahuan. 

Namun kejayaan Islam yang berkembang hingga ke Eropa ini mengalami kemunduran di abad ke-15. Kejatuhan umat Islam setelah menikmati pemerintahan yang sedemikian besar merupakan peristiwa luar biasa yang tidak terjadi dalam semalam, melainkan banyak penyebab keruntuhan tersebut. Kekuasaan Islam di Andalusia jatuh di tangan kerajaan-kerajaan Kristen. 

Komunitas Muslim di Andalusia kemudian menurun secara drastis yang disebabkan adanya Kristenisasi. Kaum Muslim yang sebelumnya mayoritas kemudian beralih menjadi minoritas. 

Sementara mengalami kemunduran di Eropa Barat, Islam juga masuk ke Eropa melalui wilayah tenggara yaitu Kekaisaran Byzantium. 

Periode kedua masuknya Islam ke Eropa terjadi setelah ditaklukkannya Kota Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II dari Kekaisaran Ottoman pada tahun 1453. Selanjutnya, wilayah Ottoman di Eropa meluas ke Balkan dan Hongaria saat pemerintahan Sultan Suleiman I. (Amstrong, 2002)

Dengan ekspansi Ottoman, Islam memantapkan dirinya di Eropa Tenggara untuk selamanya. Diperkirakan bahwa pada pertengahan abad keenam belas sekitar sepertiga penduduk memeluk agama baru. 

Selama fase pertama ini, Islamisasi sebagian besar terbatas pada kota-kota, di mana infrastruktur keagamaan seperti masjid, biara darwis dan yayasan saleh dikembangkan. 

Sejak pertengahan abad ke-16 dan seterusnya, Islamisasi menyebar ke lebih banyak daerah pedesaan, mencapai puncaknya di banyak daerah di Eropa Tenggara selama tahun 1640-an. 

Foto: Kolam renang di Patio de los Arrayanes mencerminkan kemegahan Alhambra yang tak tertandingi.


Bosnia dan Herzegovina adalah satu-satunya wilayah di mana Muslim menjadi kelompok populasi terbesar sejak akhir abad keenam belas atau awal abad ketujuh belas, meskipun tanggal pastinya tidak diketahui. 

Selama abad kedelapan belas, tidak ada gelombang pertobatan yang lebih signifikan di wilayah Ottoman di Eropa Tenggara. (Koller, 2012)

Peradaban di bawah pemerintahan Eropa tidak semaju dengan masa Kekhalifahan Umayyah ataupun Abbassiyah. 

Pemerintahan yang cenderung tertutup dengan Barat dan kurang berkembangnya ilmu pengetahuan mengakibatkan Ottoman mengalami kemunduran. Mereka lebih mengutamakan kekuatan militer. 

Industrialisasi yang saat itu berkembang pesat di Eropa Barat tidak terjadi di Kekaisaran Ottoman. Pada akhirnya Kekaisaran Ottoman runtuh setelah kalah di Perang Dunia I.

Kedua gerbang masuknya Islam di barat dan timur Eropa tersebut menyisakan kelompok-kelompok minoritas Muslim di Eropa. 

Namun, di beberapa negara Eropa Timur seperti Bosnia dan Herzegovina, Albania, Kosovo, Turki, Azerbaijan memiliki populasi Muslim yang besar. 

Di Eropa Barat, kelompok Muslim berasal dari para imigran di abad ke-20 yang biasanya dari daerah koloni masing-masing negara seperti Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah. 

Di Prancis, para imigran Muslim berasal dari Maroko, Aljazair, Tunisia dan negara-negara Afrika Timur. 

Di Jerman kebanyakan mereka berasal dari Turki. Kemudian di Inggris, imigran Muslim mayoritas berasal dari negara-negara di Asia Selatan. Namun tetap saja, Islam di negara-negara Eropa Barat menjadi agama minoritas.  (Vaisse, 2008)

Referensi:

Amstrong, K. (2002). Islam: A Short History. New York: Modern Library.

Koller, M. (2012). The Ottoman History of South-East Europe. European History Online (EGO). Retrieved from B.

Manan, N. A. (2020). Kemajuan dan Kemunduran Peradaban Islam di Eropa (711M-1492M). Jurnal Adabiya 21(1), 54-79.

Vaisse, J. (2008). Muslims in Europe: A short introduction. Center on the United States and Europe at Brookings.



1 komentar untuk "Sejarah Masuknya Islam di Eropa"

  1. artikel ini menjadi dasar untuk pengembangan literasi sejarah seperti https://unair.ac.id/sejarah-islam-balada-pencatat-kitab/

    BalasHapus