Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Berdirinya Kerajaan Perlak dan Pidie

Gambar: Istimewa

Kerajaan Perlak merupakan kerajaan yang bercorak islam. Kerajaan ini didirikan pada 840 M. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya naskah berbahasa melayu yaitu Idharatul Haq Fi Mamlakatil Ferlah Wal Fasi karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy ,Kitab Tazkirah Thabakat Jumu Sultan Sultan As Salatin karangan Syekh Samsul Bahri Abdullah A Asyi,dan silsilah raja perlak dan pasai yaitu catatan dari Saiyid Abdullah ibn Saiyd Habib Saifuddin, di mana ketiga naskah tersebut menyebutkan bahwa kerajaan islam pertama adalah kerajaan Perlak.

Kerajaan Perlak didirikan pada 1 Muharram 225 H (840 M), sebagai raja pertamanya yaitu Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah yang awalnya bernama Saiyid Abdul Aziz. Kesultanan Perlak terus mempertahankan eksistensinya hingga peleburannya menjadi bagian dari Kerajaan Samudra Pasai yaitu tahun 1296 M dibawah kekuasaan Sultan Malikus Saleh.

Kerajaan Pidie berdiri sejak abad ke-15, Kerajaan ini terletak di Provinsi Aceh. Kerajaan Pidie terletak di daratan rendah dengan tanah yang subur sehingga kehidupan para penduduk makmur. Pada awalnya, Kerajaan Pidie bernama Kerajaan Sama Indra yang ditahlukkan Kerajaan Aceh Darusasalam. Sehingga Sultan Mahmud II Alaiddin Johan Sjah mengangkat Raja Husein Sjah menjadi Sultan Muda di negri Sama Indra yang otonom di bawah kekuasaan Aceh Darussalam.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Perlak

Kerajaan Pereulak atau yang lebih dikenal dengan sebutan Perlak diperkirakan sudah mulai muncul pada abad ke-9 Masehi yang merupakan kerajaan Islam pertama di Sumatera Utara. Kerajaan ini terletak di pesisir timur Sumatera Utara sehingga letaknya yang strategis menjadikannya bandar niaga atau perdagangan yang sangat ramai dikunjungi pada saat itu.

Seorang penjelajah dunia yang berasal dari Italia yang bernama Marcopolo dalam perjalanannya menuju Cina ke Persia melalui jalur laut, pernah singgah di bagian pesisir utara Aceh pada tahun 1292 (Daliman, 2012). Disebutkan bahwa di wilayah Pereulak, Marcopolo menjumpai banyak pedagang Islam dari India yang tak hanya melakukan kegiatan perniagaan namun juga giat menyebarkan agama Islam. Sehingga pada saat itu telah ditemukan penduduk sekitar yang memeluk agama Islam.

Kerajaan Peurelak berasal dari keturunan Arab, yaitu seorang pedagang Arab yang dinikahkan dengan Putri pribumi yang merupakan keturunan dari Raja Perlak (Farid, 2016).

Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putra yang diberi nama Sayyid Abdul Azis yang selanjutnya naik tahta dan menjadi Sultan Perlak yang pertama dengan sebutan Sultan Alaidin Syah yang memerintah Kerajaan Perlak pada 1161-1186 Masehi. Agama Islam yang dianut oleh Sultan alaidin Syah adalah aliran Syiah.

Kerajaan Perlak menjadi kerajaan pertama yang beragama islam dan rajanya memiliki gelar Sultan Syed Maulana Abdul Aziz Shah (840-864 M). Kerajaan Perlak menjadi terkenal berkat kunjungan tokoh penjelajah yaitu Marco Polo pada tahun 1293 (Farid, 2016).

Sejarah Berdirinya Kerajaan Pidie

Kerajaan Pidie atau yang sering disebut juga Pedir terletak di Pulau Sumatera sekitar kawasan selat Malaka yang hampir berhadapan dengan wilayah Malaka. Kerajaan Pidie terkenal sebagai sebuah pusat perdagangan dan memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Komoditi perdagangan andalan Pidie adalah emas, kapur barus, lada, dan sutera putih. Kerajaan Pidie dikenal sebagai kerajaan yang kaya karena merupakan sumber utama suplai rempah-rempah terutama lada yang sangat dibutuhkan  semua bangsa baik barat maupun timur.

Kerajaan Pidie merupakan pusat perdagangan yang sangat ramai bahkan jauh sebelum Malaka. Hal tersebut dikarenakan kerajaan ini mengendalikan selat yang menghubungkan pulau Sumatera dengan daratan. Dalam kisah pelayaran bangsa Portugis, kerajaan pidi disebut sebagai Pedir. Sedangkan dalam catatan kisah pelayaran bangsa Cina kerajaan Pidie disebut dengan Poli dan juga disebutkan bahwa kerajaan Pidie mempunyai luas sekitar 100×200 mil atau sekitar 50 hari perjalanan dari timur ke barat dan 20 hari perjalanan dari utara ke selatan.

Kerajaan Pidie merupakan salah satu bukti adanya peninggalan islam di wilayah Aceh (Arifin, 2016). Sebelum islam datang ke Aceh, disana masih terdapat banyak pengaruh Hindu Buddha di dalam kehidupan masyarakat. Suku yang mendiami kerajaan ini berasal dari penduduk pendatang dari wilayah Mon Khmer yaitu Negeri Champa yang terletak di Asia Tenggara.

Hal itu diyakini dengan ditemukannya 150 kata dari bahasa Campa dalam bahasa Aceh. Demikian juga dengan bahasa Khmer (Kamboja) tetapi yang sangat dominan adalah bahasa Melayu dan bahasa Arab. Kedatangan suku Mon Khmer ke Poli atau daratan Sumatera terjadi beberapa abad sebelum masehi. Rombongan yang dipimpin oleh oleh Sjahir Pauling ini yang kemudian terkenal sebagai Sjahir Poli. Mereka  berbaur dengan masyarakat sekitar yang telah lebih dahulu tinggal di wilayah tersebut.

Setelah menetap di kawasan tersebut, Sjahir Poli mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sama Indra yang kala itu masih menganut agama Budha Mahayana atau Himayana namun setelah itu mendapat pengaruh ajaran Hindu. Namun lambat laun Kerajaan Sama Indra pecah mejadi beberapa kerajaan kecil. Seperti pecahnya Kerajaan Indra Purwa (Lamuri) menjadi Kerajaan Indrapuri, Indrapatra, Indrapurwa dan Indrajaya yang dikenal sebagai kerajaan Panton Rie atau Kantoli di Lhokseudu. Bisa jadi juga, Kerjaan Sahe/Sanghela berdiri setelah Kerajaan Sama Indra ini pecah menjadi beberapa kerajaan kecil, hingga kemudian membentuk sebuah kerajaan tersendiri.

Kala itu Kerajaan Sama Indra menjadi saingan Kerajaan Indrapurba (Lamuri) di sebelah barat dan kerajaan Plak Plieng (Kerajaan Panca Warna) di sebelah timur. Kerajaan Sama Indra mengalami berbagai benturan dan perubahan yang cukup berat kala itu. Pada pertengahan abad ke-14 masehi penduduk di Kerajaan Sama Indra beralih dari agama Hindu-Budha menjadi agama Islam. Kerajaan itu juga mendapat serangan dari Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Mansyur Syah (1354 – 1408 M). Selanjutnya, pengaruh Islam yang dibawa oleh orang-orang dari Kerajaan Aceh Darussalam terus mengikis ajaran hindu dan Budha di wilayah itu.

Setelah kerajaan Sama Indra jatuh ditangan kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam, maka Sultan Aceh selanjutnya, Sultan Mahmud II Alaiddin Johan Sjah mengangkat Raja Husein Sjah menjadi sultan muda di negeri Sama Indra yang mempunyai otonomi di bawah Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Sama Indra kemudian berganti nama menjadi Kerajaan Pedir, yang lama kelamaan berubah menjadi Pidie seperti yang terkenal saat ini.

Posting Komentar untuk "Sejarah Berdirinya Kerajaan Perlak dan Pidie"